sekolah tinggi teknologi cipasung
mufti
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
Judul Halaman Saya
!doctype>
Kamis, 26 Januari 2017
Cerita ini mudah-mudahan lebih melengkapi beranekaragamnya alumni ITB angkatan 77. Saya dibesarkan dilingkungan pesantren tarekat di sebuah kampung kecil di Tulungagung, Jawa Timur. Ayah saya adalah seorang guru tarekat (mursyid). Seperti kebanyakan yang
terjadi dengan anak dari seorang mursyid, masa SD sampai SMA saya dihabiskan dengan pendidikan ke-pesantren-an dengan harapan nantinya saya akan meneruskan pesantren yang telah dirintis oleh ayah, kakek, dan buyut saya. Dengan alasan yang sama, setelah saya lulus dari SMPPN Tulungagung (sekarang SMA 1 Tulungagung), saya dititipkan di
Pesantren Al-Munawwir, Krapyak Yogyakarta.
[Chobir kecil sesaat setelah menerima penghargaan sebagai juara MTQ anak-anak
di Mesjid Agung Tulungagung (1970)]
“Terdampar” di Bandung dan kuliah di ITB
Namun kemudian, di Krapyak saya malah mengikuti test ujian masuk perguruan tinggi SKALU yang bertempat di Jurusan Biologi UGM. Ternyata saya diterima di FMIPA ITB angkatan 1977. akhirnya sayapun berkuliah di ITB.
[Sesaat setelah OSPEK, Berpose dengan teman-teman asal Tulungagung (Joko, Eko, Agus, Didik, Chobir)]
[Ketika ikut OSPEK (1977)]
Di Bandung saya banyak beraktivitas di Salman karena pesan orangtua saya supaya tidak jauh-jauh dari mesjid. Kegiatan utama saya sebagai tukang adzan (muadzin), guru ngaji, sesekali jadi imam mesjid. Beberapa dari aktivitas saya selama di kampus adalah ikut unit Pers Kampus, mengurus Toko Buku Ganesha Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa Bandung, juga mengikuti kegiatan di Yayasan Swadaya Muda, yang bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan teknologi tepat guna dan pelayanan sosial.
Mendapat Penghargaan Kalpataru & “kecantol” putri Kyai
Teman-teman di Swadaya Muda banyak merintis kegiatan teknologi tepat guna melalui pesantren, karena dianggap pesantren merupakan lembaga yang masih mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat pedesaan, dengan harapan teknologi tepat guna itu bisa disebarluaskan melalui
pesantren-pesantren tadi. Contohnya dengan membuat MCK dengan bambusemen (menggunakan bambu sebagai kerangka beton), penjernihan air dan lain-lain. Bahkan salah satu kegiatan penjernihan air yang dibuat di Cipasung mendapat hadiah Kalpataru 1980.
[Bersama teman-teman 77 yang ikut LMD di Salman]
Sekitar tahun 1982 saya malah lebih sering bolak-balik Bandung-Tasikmalaya bergantian dengan teman-teman, diantaranya : Hartoko (SI 77), Triyono (FI 77), Andi Eka (FI 77), Saul (FT 77), Ali Fikri (TI 77) dan lain-lain untuk memberikan bimbingan belajar kepada siswa-siswi kelas III SMA Islam Cipasung. Lha kok saya malah akhirnya kecantol sama putrinya pak Kyai (KH.Moh Ilyas Ruhiat).
Jadi Mantu Ajengan
Dua hari menjelang wisuda, Kamis 24 Maret 1983, jam 19.00, di malam jum’at yang sakral itu saya memasuki gerbang rumah tangga, dalam sebuah acara akad nikah yang sederhana dengan diantar keluarga, teman-teman Salman dan teman-teman seangkatan – yang waktu di kampus suka ngobrol-ngobrol/diskusi masalah-masalah sosial keagamaan dengan menamakan diri “Mabrur 77”. Diantara yang hadir dan menyaksikan acara akad nikah kami adalah : Indratmo (SI 77), Cahyono (SI 77), Saiful Halim (SI 77), Hartoko (SI 77), Suprayudi (SI 77), Gatot Trilaksono (TK 77), Wafroni (SI 77), Ahsin (MS 77), Syahril (SI 77), Idwan (SI 77), Eddy Sugiarto (GL 77), Wahdan Darwani (TL 77), Ali Fikri (TI 77), Leonarda (SI 77), Agus Trisantosa (EL 77), Agus Supangat (GM 77) (.Maaf ya bagi yang nggak kesebut namanya, maklum sudah mau jadi kakek).
Jadi sebelum di wisuda tanggal 26 maret 1983, saya sudah punya gelar MA (mantu ajengan). Berikut ini foto-foto pernikahan seorang Mahasiswa ITB dengan putri seorang Kyai pesantren:
[Akad nikah, dihadiri oleh teman-teman 77]
Sambil menemani isteri kuliah di IKIP Bandung, yang baru semester 2, saya ikut membantu kegiatan di Lembaga Pendidikan Islam Salman, mengajar di Unisba, Uninus dan Unla. Selain bolak-balik Cipasung – Bandung, saya mulai ikut kegiatan-kegiatan di pesantren, disamping sering diajak mendampingi p
Langganan:
Postingan (Atom)